Jumat, 12 Juli 2013

BAKAT, MINAT DAN MOTIVASI SISWA

BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang

Untuk mencapai tujuan pendidikan yang sebenarnya tentu diperlukan partisipasi dari sang pelaku pembelajaran, yaitu siswa. Dan guru pun harus mampu melihat bagaimana respons siswa terhadap pembelajaran. Sebagaimana yang kita tahu bahwa motivasi, minat dan bakat siswa sangat berperan dalam suksesnya proses pembelajaran. Semakin baik ketiga hal tersebut dimiliki siswa maka semakin efektiflah proses pembelajaran tersebut.

B.       Rumusan Masalah

Dalam makalah ini kami akan membahas tentang pengaruh motivasi, minat dan bakat dalam proses pembelajaran siswa.

C.      Tujuan

Tujuan adanya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Psikologi Pembelajaran dan untuk menambah khazanah keilmuan para pembaca, maka dengan adanya makalah ini kita bisa mengetahui pengaruh motivasi, minat dan bakat siswa dalam proses pembelajaran.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Motivasi
Istilah motivasi baru dikenal sejak awal abad kedua puluh. Selama beratus-ratus tahun, manusia dipandang sebagai makhluk rasional dan intelek dan memilih tujuan dan menentukan tujuan secara bebas. Manusia bebas untuk memilih, dengan pilihan yang ada baik atau buruk, tergantung pada intelegensi dan pendidikan individu, oleh karenanya manusia bertanggung jawab penuh terhadap setiap perilakunya.
Konsep motivasi terinspirasi dari kesadaran para pakar ilmu, terutama pakar filsafat, bahwa tidak semua tingkah laku manusia dikendalikan oleh akal, akan tetapi tidak banyak perbuatan manusia yang dilakukan diluar kontrol manusia. Sehingga lahirlah sebuah pendapat, bahwa manusia selain sebagai makhluk rasionalistik, ia juga sebagai makhluk yang mekanistik, yaitu makhluk yang digerakkan oleh sesuatu diluar nalar, yang disebut dengan naluri atau insting[1].
Suatu hal penting yang berkaitan dengan motivasi adalah bahwa motivasi itu tidak bisa diamati secara langsung. Tetapi motivasi dapat diketahui dari tingkah laku, yaitu apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat seseorang. Dari hal-hal tersebut dapat diketahui tentang motivasinya[2].
Menurut M. Utsman Najati seperti yang dikutip oleh Abdul Rahman Shaleh, motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu. Motivasi memiliki tiga komponen pokok yaitu:
1.      Menggerakkan. Motivasi menimbulkan kekuatan dalam diri individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
2.      Mengarahkan. Motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan.
3.      Menopang. Motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan individu.
Perilaku individu tidak berdiri sendiri, selalu ada hal yang mendorongnya dan tertuju pada suatu tujuan yang ingin dicapainya. Para ahli sering kali menjelaskan perilaku individu ini dengan tiga pertanyaan pokok, yaitu: Apa (What), Bagaimana (How) dan mengapa (Why). Apa yang ingin dicapai oleh individu, bagaimana cara mencapainya, dan mengapa individu melakukan kegiatan tersebut.apa yang ingin dicapai oleh individu mungkin sama namun bagaimana mencapai dan mengapa individu ingin mencapainya mengkin berbeda[3].

Jadi, motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intrinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.
Seperti yang dikutip oleh Zalyana dari Haris Mudjiman, ada beberapa cara yang dapat disarankan dalam memotivasi belajar siswa:
1.      Penggunaan alat peraga dalam rangka menarik perhatian dan memperjelas.
2.      Pemberian insentif, yang berupa pujian dari guru, atau timbulnya kepuasan dari dalam diri karena pekerjaannya berhasil.
3.      Penumbuhan keinginan untuk mengetahui sesuatu
4.      Pengorganisasian bahan ajar
5.      Penciptaan suasana yang nyaman dalam belajar
6.      Pemberian bantuan agar siswa memiliki tujuan belajar yang jelas.
7.      Pemberian umpan balik.
Cara lain yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa adalah:
1.      Belajar melalui model, yaitu melihat pengalaman-pengalaman yang pernah dicoba oleh orang lain.
2.      Belajar kebermaknaan, dengan cara guru menghubungkan materi dengan pengalaman siswa masa lampau, dan bagaimana mengatasi untuk masa depan dan membuat contoh-contoh yang berguna bagi siswa.
3.      Melibatkan siswa dalam interaksi yang menimbulkan motivasi seperti: kemukakan tujuan yang hendak dicapai, tunjukkan hubungan-hubungan agar siswa memahami apa yang diperbincangkan, menjelaskan pelajaran secara nyata, hindari pembicaraan dari hal-hal yang abstrak yang tidak terjangkau pikiran siswa.
4.    Temu tokoh
5.    Wisata alam[4]

B.       Bakat
Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial yang bersifat khusus, yaitu khusus dalam sesuatu bidang atau kemampuan tertentu. Seseorang lebih berbakat dalam bidang bahasa sedang yang lain dalam matematika, yang lain lagi lebih menunjukkan bakatnya dalam sejarah, dan sebagainya[5].
Banyak para ahli mengemukakan tentang definisi bakat. Diantaranya adalah menurut W. B Michael bakat merupakan suatu kapasitas atau potensi yang belum dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar, bakat berkenaan dengan kemungkinan menguasai sesuatu pola tingkah laku dalam aspek kehidupan tertentu.
Guillford memberikan definisi sedikit berbeda, menurutnya bakat banyak sekali, sebanyak perbuatan atau aktivitas individu. Ada tiga komponen dari bakat menurut Guillford, yaitu komponen: Intelektual, perseptual dan psikomotor. Komponen intelektual terdiri atas beberapa aspek, yaitu aspek pengenalan, ingatan, dan evaluasi. Komponen perseptual juga meliputi beberapa aspek, yaitu pemusatan perhatian, ketajaman indra, orientasi ruang dan waktu, keluasan dan dan kecepatan mempersepsi. Komponen psikomotor terdiri atas aspek-aspek rangsangan, kekuatan dan kecepatan gerak, ketepatan, koordinasi gerak dan kelenturan[6].
Bakat dapat diartikan sebagi kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan. Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang, sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat dilakukan di masa yang akan datang[7].
Bakat memungkinkan seseorang mencapai prestasi tertentu dalam bidang tertentu. Akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman dan dorongan atau motivasi agar dapat tersebut dapat terwujud. Misalnya seseorang memiliki bakat menggambar, jika ia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orang tuanya menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar ia dapat pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia akan dapat mencapai prestasi unggul untuk bidang tersebut[8].
Dalam kehidupan di sekolah sering tampak bahwa seseorang yang bakat dalam olah raga, umumnya prestasi mata pelajarannya juga baik, tetapi sebaliknya dapat terjadi prestasi semua mata pelajarannya tidak baik. Keunggulan dalam salah satu bidang apakah bidang sastra, seni atau matematika, merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan faktor lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan motivasi.
Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bakat pada anak terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
1)      anak itu sendiri. Misalnya anak tersebut tidak atau kurang berminat untuk mengembangakn bakat-bakat yang ia miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya.
2)      Lingkungana anak. Misalnya orang tua si anak kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan, atau ekonominya cukup tinggi tetapi kurang memberi perhatian terhadap pendidikan anak[9].
Pada dasarnya setiap orang memiliki bakat-bakat tertentu. Dua anak bisa sama-sama mempunyai bakat melukis, tetapi yang satu lebih menonjol daripada yang lain bahkan saudara sekandung dalam satu keluarga bisa memiliki bakat yang berbeda-beda. Anak yang satu berbakat untuk bekerja dengan angka-angka, anak yang lain dalam bidang olah raga, serta yang lainnya lagi berbakat menulis (mengarang).

C.      Minat
Minat selama ini hanya dikenal dengan sebuah keinginan yang dimiliki oleh seseorang, sehingga antara satu dengan yang lain mempunyai perbedaan dalam keinginannya. Terlepas dari anggapan tersebut, minat siswa belajar merupakan bagian penting yang perlu dikaji dalam sebuah lembaga/ sekolah, karena tidak ada sekolah tanpa proses pembelajaran, sehingga minat siswa belajar adalah kunci tercapainya visi dan misi sekolah.
Minat mempunyai peranan penting bila dikaitkan dalam lembaga dan kurikulum pembelajarannya, karena minat mempunyai kecenderungan pada siswa untuk aktif dan respon terhadap sasarannya. Apabila sebuah kurikulum pembelajaran sekolah sudah tidak diminati, maka siswa akan cenderung pasif  dan tidak memperdulikan segala usaha yang telah dilakukan oleh sekolah tersebut, sebalikanya jika kurikulum yang dilaksanakan diminati oleh siswa, maka siswa akan cenderung melakukan kegiatan yang berguna dan berjalan sesuai apa yang diharapkan oleh sekolah.
Minat secara bahasa diartikan dengan kesukaan, kecenderungan hati terhadap suatu keinginan. Sedangkan arti minat menurut istilah diartikan oleh sebagian tokoh sebagai berikut : Menurut Slamito, minat adalah  suatu perasaan cenderung lebih cenderung atau suka kepada sesuatu hak atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh[10]. Menurut Mahfud Shalahuddin, mengemukakan minat secara sederhana, minat adalah perhatian yang mengandung unsur- unsur perasaan. Andi Mappiare berpendapat bahwa, minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka takut atau kecenderungan- kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu[11].
Dari pemaparan mengenai definisi-definisi minat diatas dapat disimpulkan bahwa, minat adalah gejala psikis yang muncul dalam diri seseorang dan direalisasikan dengan perasaan senang dan menimbulkan perhatian yang khusus terhadap sasaran, sehingga seseorang cenderung berupaya untuk mencapai sasaran tersebut. Jadi untuk melihat reaksi dari gejala psikis tersebut dapat  di pastikan dari sikap, prilaku, atau motivasi yang dimiliki oleh seseorang dalam beraktifitas.
Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik, karena itu guru berkewajiban untuk menumbuhkan minat belajar siswanya. Yang dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut:
1.      Memahami kebutuhan anak didik dan berupaya melayani kebutuhan mereka.
2.      Jangan memaksa anak didik untuk tunduk pada kemauan guru
3.      Memberikan informasi pada anak didik mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang lalu.
4.      Menjelaskan kegunaan materi pelajaran untuk masa yang akan datang.
5.      Menghubungkan materi pelajaran dengan peristiwa yang kontektual[12].
Minat yang muncul dalam pikologis siswa merupakan sebuah gejala, sehingga munculnya minat tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor yang menjadi penyebabnya. Faktor tersebut diantaraya; (a). Faktor Individu dan (b). Faktor Sosial.

1.        Faktor individu 
Merupakan pengaruh yang muncul dalam diri siswa secara alami, misalnya diakibatkan karena ; kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi dan sifat pribadi. Setiap individu mempunyai tingkat kematangan serta kecerdasan yang berbeda sehingga minat yang muncul juga tidak sama antara individu satu dengan yang lain. Misalnya, seseorang yang mempunyai kecerdasan dibidang mata pelajaran ekonomi maka akan cenderung melakukan aktifitas dibidang kerja atau koperasi. Sebaliknya sesorang yang mempunyai kecerdasan dibidang perikanan maka akan cenderung melakukan aktivitas di sawah/tambak.

2.        Faktor sosial  
Merupakan pengaruh yang muncul diluar individu, misalnya diakibatkan karena kondisi keluarga, lingkungan, pendidikan dan motivasi sosial. Minat yang dipengaruhi oleh faktor sosial misalnya; ketika siswa hidup dalam masyarakat yang kesehariannya bersentuhan dengan padi (mayoritar petani padi), maka siswa cenderung ingin tahu dan mengenal kegiatan tersebut karena merasa menjadi bagian darinya, sebaliknya jika kesehariannya bersentuhan dengan ikan (mayoritar pekerja tambak), maka siswa cenderung ingin tahu dan mengenal lebih dalam mengenai perikanan[13].
Jadi, Peran minat sangat besar jika dikaitkan dalam pelaksanaan pembelajaran, karena dengan adanya minat siswa untuk belajar, proses pembelajaran akan dapat efektif. Jika murid telah berminat dalam kegiatan belajar mengajar, maka hampir dapat dipastikan proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan hasil belajar juga optimal.



BAB III
PENUTUP
Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Bakat dapat diartikan sebagi kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Dan minat adalah gejala psikis yang muncul dalam diri seseorang dan direalisasikan dengan perasaan senang dan menimbulkan perhatian yang khusus terhadap sasaran, sehingga seseorang cenderung berupaya untuk mencapai sasaran tersebut.
Dalam proses pembelajaran antara motivasi, bakat dan minat berperan dalam mensukseskan tercapainya tujuan pembelajaran bagi siswa. dengan adanya ketiga hal tersebut, proses pembelajaran akan dapat efektif. dan dipastikan proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan hasil belajar juga optimal.



DAFTAR KEPUSTAKAAN
                  
Hartono, Ny. B. Agung dan Sunarto. Perkembangan Peserta Didik. 2006. Jakarta: Rineka Cipta.
Shaleh, Abdul Rahman. Psikologi. 2008. Jakarta: Kencana.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. 2005. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. 2004. Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Zalyana. Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2010. Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press.


[1] Abdul Rahman Shaleh, Psikologi (Jakarta: Kencana, 2008) Hlm. 178
[2] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: ANDI Yogyakarta, 2004) hlm. 220
[3] Nana Syaodih SukmaDinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 60
[4] Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab (Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press, 2010) hlm. 201
[5] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005) hlm. 101
[6] Ibid, hlm. 102
[7] Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) hlm. 120
[8] Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) hlm. 121
[9] Ibid, hlm. 122
[10] Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab (Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press, 2010) hlm. 196
[12] Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab (Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press, 2010) hlm. 197


Kamis, 11 Juli 2013

MAKALAH METODE EKSPERIMEN DALAM PEMBELAJARAN IPA

BAB I
PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang
Dalam pembangunan nasional, pendidikan diartikan sebagai upaya meningkatkan harkat dan martabat manusia serta dituntut untuk menghasilkan kualitas manusia yang lebih tinggi guna menjamin pelaksanaan dan kelangsungan pembangunan. Peningkatan kualitas pendidikan harus dipenuhi melalui peningkatan kualitas dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Pembaharuan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengesampingkan nilai-nilai luhur sopan santun dan etika serta didukung penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, karena pendidikan yang dilaksanakan sedini mungkin dan berlangsung seumur hidup menjadi tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.

Pada era globalisasi, perkembangan IPTEK semakin marak di masyarakat. Maraknya perkembangan IPTEK disebabkan oleh adanya tuntutan manusia untuk berkembang dan maju dalam berbagai bidang sesuai dengan perkembangan zaman. Tuntutan tersebut, dapat diperoleh melalui informasi aktual dari peralatan IPTEK yang canggih. Pendidikan merupakan upaya untuk membentuk sumber daya manusia yang dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Dengan demikian kebutuhan manusia yang semakin kompleks akan terpenuhi. Selain itu melalui pendidikan akan dibentuk manusia yang berakal dan berhati nurani.

Kualifikasi sumber daya manusia yang mempunyai karakteristik seperti diatas, sangat diperlukan dalam menguasai dan mengembangkan ilmupengetahuan dan teknologi, sehingga mampu menghadapi persainganglobal.Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor penting dalamkeberhasilan pembangunan disegala bidang. Hingga kini pendidikan masihdiyakini sebagai wadah dalam pembentukan sumber daya manusia yangdiinginkan.

Melihat begitu pentingnya pendidikan dalam pembentukansumber daya manusia, maka peningkatan mutu pendidikan merupakan halyang wajib dilakukan secara berkesinambungan guna menjawabperubahan zaman. Masalah peningkatan mutu pendidikan tentulah sangatberhubungan dengan masalah proses pembelajaran. Proses pembelajaranyang sementara ini dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita masihbanyak yang mengandalkan cara-cara lama dalam penyampaian materinya.Di masa sekarang banyak orang mengukur keberhasilan suatupendidikan hanya dilihat dari segi hasil. Pembelajaran yang baik adalahbersifat menyeluruh dalam melaksanakannya dan mencakup berbagaiaspek, baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga dalampengukuran tingkat keberhasilannya selain dilihat dari segi kuantitas jugadari kualitas yang telah dilakukan di sekolah-sekolah.

Mengacu dari pendapat tersebut, maka pembelajaran yang aktifditandai adanya rangkaian kegiatan terencana yang melibatkan siswasecara langsung, komprehensif baik fisik, mental maupun emosi. Halsemacam ini sering diabaikan oleh guru karena guru lebih mementingkanpada pencapaian tujuan dan target kurikulum. Salah satu upaya guru dalammenciptakan suasana kelas yang aktif, efektif dan menyenangkan dalampembelajaran yakni dengan menggunakan alat peraga. Hal ini dapatmembantu guru dalam menggerakkan, menjelaskan gambaran ide darisuatu materi.

Tugas utama guru adalah mengelola proses belajar dan mengajar, sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa, dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut sudah barang tentu akan mengoptimalkan pencapaian tujuan yang dirumuskan. Usman (2000:4) menyatakan bahwa proses belajar dan mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu (1990:1). Senada dengan Usman, Suryosubroto (1997:19) mengatakan bahwa proses belajar dan mengajar meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yakni pengajaran.

Tujuan utama pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalahagar siswa memahami konsep-konsep IPA secara sederhana dan mampumenggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah untuk memecahkanmasalah-masalah yang dihadapi dengan lebih menyadari kebesaran dankekuasaan pencipta alam (Depdikbud, 1997:2). Pembelajaran IPAmemiliki fungsi yang fundamental dalam menimbulkan sertamengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Agartujuan tersebut dapat tercapai, maka IPA perlu diajarkan dengan cara yangtepat dan dapat melibatkan siswa secara aktif yaitu melalui proses dansikap ilmiah.Mutu pembelajaran IPA perlu ditingkatkan secara berkelanjutan untukmengimbangi perkembangan teknologi. Untuk meningkatkan mutupembelajaran tersebut, tentu banyak tantangan yang dihadapi.

Dalam rangka pencapaian tujuan dalam pembelajaran IPA metode eksperimen sangat penting untuk dilakukan karena dapat membuat proses pembelajaran berlangsung lebih berkesan, sehingga peserta didik dapat menemukan sendiri tentang IPA, oleh sebab itu penulis menyusun makalah ini dengan judul. “ Upaya Meningkatkan  Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Metode Eksperimen”.

B.  Rumusan Masalah
Berangkat dari uraian di atas, rumusan masalah yang diangkat dalam kajian ini adalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana hakikat  IPA?
2.    Bagaimana rasional metode eksperimen?
3.    Bagaimana langkah-langkah metode eksperimen?
4.    Apa kekuatan dan kelemahan metode eksperimen?

C.  Prosedur Pemecahan Masalah
Masalah-masalah diatas akan dibahas secara rinci dengan mengacu kepada studi literatur buku-buku rujukan yang sesuai. Pembahasan masalah-masalah ini hanya bersifat teoritis yang berdasarkan pendapat-pendapat dari para ahli yang dirujuk dari beberapa buku sumber disertakan pula pendapat penulis yang merupakan kesimpulan dari pendapat para ahli tersebut.

D.  Sistematika Penulisan
 Makalah  ini terdiri dari tiga bab, diawali dengan bab pendahuluan dan diakhiri dengan bab kesimpulan. Dengan rincian sebagai berikut:
Bab I merupakan bab pendahuluan meliputi : a) latar belakang masalah, b) rumusan masalah, c) prosedur pemecahan masalah, d) sistematika uraian.
Bab II berisikan tentang tinjauan teoritis yang berisi tentang : a) hakikat Pendidikan IPA; b) rasional metode eksperimen; c) langkah langkah penggunaan metode eksperimen; d)kekuatan dan kelemahan metode eksperimen.
Bab III berisikan kesimpulan.






BAB II
UPAYA MENINGKATKAN  PEMBELAJARAN IPA DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSPERIMEN



A.  Hakikat Pendidikan IPA di Sekolah Dasar
1.    Pengertian Pendidikan  IPA
Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar dalam Garis-garis BesarProgram Pendidikan (GBPP) kelas V Sekolah Dasar dinyatakan:Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatanmanusia yang berupa pengetahuan, gagasan dan konsep-konsep yangterorganisasi tentang alam sekitar, yang diperoleh dari pengalamanmelalui serangkaian proses kegiatan ilmiah antara lain penyelidikan,penyusunan dan pengujian gagasan-gagasan.
Lebih lanjut pengertian IPA menurut Fisher (1975) yang dikutipoleh Muh. Amin (1987:3) mengatakan bahwa “Ilmu Pengetahuan Alam(IPA) adalah salah satu kumpulan pengetahuan yang tersusun secarasistematik yang didalamnya secara umum terbatas pada gejala-gejalaalam”.
Menurut Sumaji (1998:31), IPA berupaya untukmembangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan danpemahamannya mengenai alam sekitarnya. Mata pelajaran IPA adalahprogram untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan,keterampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai danmenghargai kebesaran Sang pencipta (Depdikbud 1993/1994: 97).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa merupakan salah satu kumpulan ilmu pengetahuan yang mempelajarialam semesta, baik ilmu pengetahuan yang mempelajari alam semestayang bernyawa ataupun yang tak bernyawa dengan jalan mengamatiberbagai jenis dan perangkat lingkungan alam serta lingkungan alambuatan.IPA merupakan cara mencari tahu tentang alam secarasistematik untuk menguasai pengetahuan, fakta-fakta, konsep-konsep,prinsip-prinsip, proses penemuan, dan memiliki sikap ilmiah.Pendidikan IPA di SD bermanfaat bagi peserta didik  untuk mempelajari dirisendiri dan alam sekitar. Pendidikan IPA menekankan pada pemberianpengalaman langsung dan kegiatan praktis untuk mengembangkankompetensi agar peserta didik  mampu menjelajahi dan memahami alam sekitarsecara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk “mencari tahu” dan“berbuat” sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperolehpemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

2.    Fungsi Mata Pelajaran IPA
Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar (Depdikbud 1993/1994:97-98) Mata Pelajaran IPA berfungsi untuk:
a.    Memberikan pengetahuan tentang berbagai jenis dan perangailingkungan alam dan lingkungan buatan yang berkaiatan denganpemanfaatannya bagi kehidupan sehari-hari.
b.    Mengembangkan keterampilan proses.
c.    Mengembangkan wawasan, sikap dan nilai yang berguna bagisiswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
d.   Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan keterkaitanyang saling mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologidengan keadaan lingkungan di sekitarnya dan pemanfaatannyabagi kehidupan sehari-hari.
e.    Mengembangkan kemajuan untuk menerapkan ilmu pengetahuandan teknologi (IPTEK), serta keterampilan yang berguna dalamkehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikannyake tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
3.  Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Tujuan pemberian mata pelajaran IPA munurut Sumaji(1998:35) adalah agar siswa mampu memahami dan menguasai konsepkonsepIPA serta keterkaitan dengan kehidupan nyata. Siswa jugamampu menggunakan metode ilmiah untuk memcahkan masalah yangdihadapinya, sehingga lebih menyadari dan mencintai kebesaran sertakekuasaan Penciptanya.
Pengajaran IPA menurut Depdikbud (1993/1994:98-99) bertujuanagar siswa:
a.       Memahami konsep-konsep IPA dan kaitannya dengan kehidupansehari-sehari.
b.      Memiliki keterampilan proses untuk mengembangkan pengetahuan,dan ide tentang alam di sekitarnya.
c.       Mempunyai minat untuk mengenal dan mempelajari benda-bendaserta peristiwa di lingkungan sekitar.
d.      Bersikap ingin tahu, tekun, terbuka, kritis, mawas diri,bertanggungjawab, bekerjasama dan mandiri.
e.       Mampu menerapkan berbagai macam konsep IPA untukmenjelaskan gejala-gejala alam dan memecahkan masalah dalamkehidupan sehari-hari.
f.       Mampu menggunakan teknologi sederhana yang berguna untukmemecahkan suatu masalah yang ditemukan dalam kehidupansehari-hari.
g.      Mengenal dan memupuk rasa cinta terhadap alam sekitar, sehinggamenyadari kebesaran dan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Maksud dan tujuan tersebut adalah agar peserta didik  memiliki pengetahuantentang gejala alam dan berbagai jenis dan peran lingkungan alam darilingkungan buatan dengan melalui pengamatan agar peserta didik  tidak butadengan pengetahuan dasar mengenai IPA .
3.     Ruang Lingkup Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Ruang lingkup mata pelajaran IPAmeliputi dua aspek:(1) Kerja Ilmiah yang mencakup: penyelidikan/penelitian,berkomunikasi ilmiah, pengembangan kreativitas dan pemecahanmasalah, sikap dan nilai ilmiah.(2) pemahaman konsep dan penerapannya yang mencakup:
a.    Makhluk hidup dan proses kehidupannya yaitu manusia, hewan,tumbuhan dan interaksinya.
b.    Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat,gas.
c.    Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet,listrik, cahaya, dan pesawat sederhana.
d.   Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tatasurya danbenda-benda langit lainnya.
e.    IPA, lingkungan, teknologi, dan masyarakat merupakanpenerapan konsep IPA dan saling keterkaitannya denganlingkungan, teknologi, dan masyarakat melalui pembuatan suatukarya teknologi sederhana termasuk merancang dan membuat.
B.  Rasional Metode Eksperimen
1.    Pengertian Metode Eksperimen
Didalam proses belajar mengajar, guru harus memiliki strategi, agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu ialah harus menguasai teknik-teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar (Roestiyah N.K, 1993:1)
Teknik penyajian pelajaran adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik  didalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh peserta didik  dengan baik. Salah satu teknik penyajian pelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik penyajian pelajaran eksperimen atau disebut juga dengan metode eksperimen. Dengan adanya kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam cara mengajar guru di kelas digunakan teknik eksperimen, yaitu salah satu cara mengajar dimana peserta didik melakukan suatu percobaan tentang suatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan di evaluasi oleh guru.
Metode eksperimen adalah metode pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Metode eksperimen merupakan suatu metode mengajar yang menggunakan alat dan tempat tertentu dan dilakukan lebih dari satu kali. Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga peserta didik  dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah.
Menurut Joseph Mbulu, 2001:58 Metode eksperimen adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana peserta didik  melakukan eksperimen (percobaan) dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar dengan metode eksperimen, peserta didik  diberi pengalaman untuk mengalami sendiri tentang suatu objek, menganalisis, membuktikan, dan menarik kesimpulan tentang suatu objek keadaan. Dengan demikian peserta didik  dituntut untuk mengalami sendiri, mencari suatu kebenaran, mencari suatu data baru yang diperlukannya, mengolah sendiri, membuktikan suatu dalil atau hukum dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya itu.
Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar peserta didik  mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Melatih peserta didik untuk berpikir yang ilmiah (scientific thinking). Dengan eksperimen peserta didik  menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.
Apabila seseorang mencoba sesuatu yang belum diketahui hasilnya maka ia melakukan suatu eksperimen. Kualitas hasil suatu produksi dapat diselidiki dengan melakukan suatu eksperimen. Guru dapat menugaskan peserta didik untuk melakukan eksperimen sederhana, baik didalam kelas maupun diluar kelas. Untuk memudahkan pemahaman konsep-konsep teoristis yang disajikan, guru hendaknya menugaskan peserta didik untuk melakukan eksperimen. Sebuah eksperimen dapat dilakukan peserta didik untuk menguji hipotesis suatu masalah dan kemudian menarik kesimpulan. Dengan menggunakan metode eksperimen murid diharapkan : (1) ikut aktif mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan belajar untuk dirinya. (2) peserta didik  belajar menguji hipotesis dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, ia berlatih berpikir ilmiah dan (3) mengenal berbagai alat untuk melakukan eksperimen dan memiliki keterampilan menggunakan alat-alat tersebut.
Agar pelaksanaan eksperimen dapat berjalan lancar maka: (1) Guru hendaknya merumuskan tujuan eksperimen yanga akan dilaksanakan peserta didik (2) Guru bersama peserta didik  mempersiapkan perlengkapan yang dipergunakan (3) Perlu memperhitungkan tempat dan waktu (4) Guru menyediakan kertas kerja untuk pengarahan kegiatan peserta didik  (5) Guru membicarakan masalah yang akan yang akan dijadikan eksperimen (6) Membagi kertas kerja kepada murid (7) peserta didik  melaksanakan eksperimen dengan bimbingan guru, dan (8) Guru mengumpulkan hasil kerja murid dan mengevaluasinya, bila dianggap perlu didiskusikan secara klasikal.


2.    Tujuan Penggunaan Metode Eksperimen
Teknik eksperimen kerap kali digunakan karena guru memiliki tujuan agar peserta didik nya :
a.    Dengan eksperimen peserta didik  terlatih menggunakan metode ilmiah dalam menghadapi segala masalah. Sehingga tidak mudah percaya kepada sesuatu yang belum pasti kebenarannya dan tidak mudah percaya pula kata orang, sebelum ia membuktikan kebenarannya.
b.    Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, karena hal itulah yang sangat diharapkan dalam dunia pendidikan modern. Dimana peserta didik lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.
c.    Siswa dalam melaksanakan proses eksperimen disamping memperoleh ilmu pengetahuan juga menemukan pengalaman praktis serta keterampilan dalam menggunakan alat percobaan.

C.    Langkah-langkah Metode Eksperimen dalam Pembelajaran IPA
Bila guru hendak menggunakan pembelajran dengan menggunakan metode eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut :
1.    Perlu dijelaskan kepada peserta didik  tentang tujuan eksperimen, mereka harus memahami masalah-masalah yang akan dibuktikan melalui eksperimen.
2.    Kepada peserta didik  perlu dijelaskan pula tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan dalam percobaan, agar tidak mengalami kegagalan peserta didik perlu mengetahui variabel yang harus dikontrol ketat, peserta didik  juga perlu memperhatikan urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen berlangsung.
3.    Selama proses eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi pekerjaan peserta didik. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen.
4.    Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian peserta didik, mendiskusikannya dikelas dan mengevalusi dengan tes atau sekedar tanya jawab.
Dalam menggunakan metode eksperimen, agar memperoleh hasil yang diharapkan, terdapat beberapa langkah yang diharapkan, terdapat beberapa langkah yang harus diperhatikan yaitu :
Persiapan Eksperimen
1.    Persiapan yang matang mutlak diperlukan, agar memperoleh hasil yang diharapkan, terdapat beberapa langkah yang harus diperhatikan yaitu :
2.    Menentapkan tujuan eksperimen
3.    Mempersiapkan berbagai alat atau bahan yang diperlukan
4.    Mempersiapkan tempat eksperimen
5.    Mempertimbangkan jumlah peserta didik dengan alat atau bahan yang ada serta daya tampung eksperimen.
6.  Mempertimbangkan apakah dilaksanakan sekaligus (serentak seluruh peserta didik atau secara bergiliran).
7.  Perhatikan masalah keamanan dan kesehatan agar dapat memperkecil atau menghindari risiko yang merugikan dan berbahagia.
8.  Berikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapa-tahapan yang harus dilakukan peserta didik, yang termasuk dilarang atau membahayakan.
Pelaksanaan Eksperimen
1.    Setelah semua persiapan kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut:
2.    Peserta didik  memulai percobaan, pada saat siswa melakukan percobaan, guru mendekati untuk mengamati proses percobaan dan memberikan dorongan dan bantuan terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi sehingga eksperimen tersebut dapat diselesaikan dan berhasil.
3.    Selama eksperimen berlangsung, guru hendaknya memperhatikan situasi secara keseluruhan sehingga apabila terjadi hal-hal yang menghambat dapat segera terselesaikan.
Tindak lanjut Eksperimen
1.    Setelah eksperimen dilakukan, kegiatan-kegiatan selanjutnya adalah sebagai berikut:
2.    Peserta didik  mengumpulkan laporan eksperimen untuk diperiksa guru.
3.    Mendiskusikan masalah-masalah yang ditemukan selama eksperimen, memeriksa dan menyimpan kembali segala bahan dan peralatan yang digunakan.

D.  Kekuatan dan Kelemahan Metode Eksperimen.
Kelebihan dari metode eksperimen adalah :
a.    Metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.
b.    Memotivasi peserta didik untuk mengeksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi.
c.    Dapat membina manusia yang dapat membawa terobosan-terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan.
            Sedangkan kekurangan dari metode eksperimen adalah :
a.    Tidak cukupnya alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan ekperimen.
b.    Memerlukan jangka waktu yang lama.
c.    Metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang ilmu sains dan teknologi.




BAB III
KESIMPULAN


IPA tidak dapat diajarkan sebagai suatu materi pengetahuan, yang disampaikan dengan metode ceramah,melainkan melalui pembelajaran siswa aktif. Metode eksperimen merupakan pembelajaran siswa aktif, dimana peserta didik belajar dan berlatih untuk memiliki dan menguasai konsep-konsep dasar sains/ IPA secara tuntas (mastery learning).Tujuan pendidikan IPA di sekolah dasar hendaknya lebih menekankan kepada pemilikan kecakapan proses atau kecakapan generik dibandingkan dengan penguasaan konsep, karena kecakapan generik merupakan prasyarat yang harus dimiliki peserta didik, kecakapan generik yang dimiliki peserta didik sekolah dasar akan berfungsi menjadi alat bagi mereka untuk menggali konsep-konsep keilmuan yang diminatinya, pada jenjang pendidikan berikutnya

Metode eksperimen adah suatu cara menyajikan atau mempertunjukan secara langsung objeknya, atau caranya melakukan sesuatu atau mempertunjukan prosesnya. Dalam pelaksanaannya pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen, guru terlebih dahulu menerangkan materi kemudian melakukan atau menunjukan sesuatu proses yang dieksperimenkan. Pembelajran IPA dapat ditingkatkan melalui metode eksperimen dengan langkah langkah diantaranya mempersiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, peserta didik  diberi penjelasan dan petunjuk-petunjuk seperlunya, dilakukan pengelompokan kemudian tiap kelompok melakukan percobaan yang telah direncanakan, bila hasilnya belum memuaskan dapat diulangi untuk membuktikan kebenarannya. Setiap kelompok dapat melaporkan hasil percobaannya secara tertulis.



DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 1993. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: FIP IKIP Semarang.

Djazuli, Ahmad, et all. 1994. Penyelenggaraan Pendidikan di Sekolah DasarDep P dan K, Dirjen pendidikan dasar dan menengah, Jakarta: dinas Pdan K.

Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas. 2002. Ringkasan Kegiatan BelajarMengajar.http://www.puskur.or.id/data/ringkasan_kbm.pdf. html 10/01/2011

Sudjana, N. 1987. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. SinarBaru Algensindo

Sumaji. et all.. 1998. Pendidikan Sains yang Humanistik. Yogyakarta:Kanisius.

Sunaryo, PVM. 2001. Penerapan Prinsip-prinsip Cara Belajar Siswa Aktif(CBSA) dalam Meningkatkan Keefektifan Proses Pembelajaran IPA diSD di Kodya Tegal dalam Jurnal Pendidikan Volume 2.1.http://202.159.18.43/jp/21 Sunaryo.html.10/01/2011

Saputro, Suprihatin, et all. 2000. Strategi Pembelajaran. DepdiknasUniversitas Negeri Malang FIP

Usman, Moh. Uzer. 2004. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. RemajaRosdakarya.

----------. 2002. Pengembangan Kurikulum Dan Sistem Pengujian BerbasisKompetensi. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah.

-------------------------. 1997b. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan PraktekREVISI IV. Jakarta: Rineka Cipta.