BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Untuk mencapai tujuan pendidikan
yang sebenarnya tentu diperlukan partisipasi dari sang pelaku pembelajaran,
yaitu siswa. Dan guru pun harus mampu melihat bagaimana respons siswa terhadap
pembelajaran. Sebagaimana yang kita tahu bahwa motivasi, minat dan bakat siswa
sangat berperan dalam suksesnya proses pembelajaran. Semakin baik ketiga hal
tersebut dimiliki siswa maka semakin efektiflah proses pembelajaran tersebut.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan membahas
tentang pengaruh motivasi, minat dan bakat dalam proses pembelajaran siswa.
C. Tujuan
Tujuan adanya makalah ini adalah
untuk memenuhi tugas Psikologi Pembelajaran dan untuk menambah khazanah
keilmuan para pembaca, maka dengan adanya makalah ini kita bisa mengetahui
pengaruh motivasi, minat dan bakat siswa dalam proses pembelajaran.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Motivasi
Istilah
motivasi baru dikenal sejak awal abad kedua puluh. Selama beratus-ratus tahun,
manusia dipandang sebagai makhluk rasional dan intelek dan memilih tujuan dan
menentukan tujuan secara bebas. Manusia bebas untuk memilih, dengan pilihan
yang ada baik atau buruk, tergantung pada intelegensi dan pendidikan individu,
oleh karenanya manusia bertanggung jawab penuh terhadap setiap perilakunya.
Konsep
motivasi terinspirasi dari kesadaran para pakar ilmu, terutama pakar filsafat,
bahwa tidak semua tingkah laku manusia dikendalikan oleh akal, akan tetapi
tidak banyak perbuatan manusia yang dilakukan diluar kontrol manusia. Sehingga
lahirlah sebuah pendapat, bahwa manusia selain sebagai makhluk rasionalistik,
ia juga sebagai makhluk yang mekanistik, yaitu makhluk yang digerakkan oleh
sesuatu diluar nalar, yang disebut dengan naluri atau insting[1].
Suatu hal
penting yang berkaitan dengan motivasi adalah bahwa motivasi itu tidak bisa
diamati secara langsung. Tetapi motivasi dapat diketahui dari tingkah laku,
yaitu apa yang dikatakan dan apa yang diperbuat seseorang. Dari hal-hal
tersebut dapat diketahui tentang motivasinya[2].
Menurut M.
Utsman Najati seperti yang dikutip oleh Abdul Rahman Shaleh, motivasi adalah
kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas pada makhluk hidup, dan
menimbulkan tingkah laku serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu. Motivasi
memiliki tiga komponen pokok yaitu:
1. Menggerakkan. Motivasi menimbulkan kekuatan dalam
diri individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
2. Mengarahkan. Motivasi mengarahkan tingkah laku.
Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan.
3. Menopang. Motivasi digunakan untuk menjaga
dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan
arah dorongan-dorongan dan kekuatan individu.
Perilaku individu tidak berdiri
sendiri, selalu ada hal yang mendorongnya dan tertuju pada suatu tujuan yang
ingin dicapainya. Para ahli sering kali menjelaskan perilaku individu ini
dengan tiga pertanyaan pokok, yaitu: Apa (What), Bagaimana (How) dan mengapa
(Why). Apa yang ingin dicapai oleh individu, bagaimana cara mencapainya, dan
mengapa individu melakukan kegiatan tersebut.apa yang ingin dicapai oleh
individu mungkin sama namun bagaimana mencapai dan mengapa individu ingin
mencapainya mengkin berbeda[3].
Jadi,
motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan
atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau
keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata
lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang
yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh
kesuksesan dalam kehidupan.
Motivasi
dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intrinsik
adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi,
orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan
karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan
seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala
elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi
faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun
kompensasi.
Seperti
yang dikutip oleh Zalyana dari Haris Mudjiman, ada beberapa cara yang dapat
disarankan dalam memotivasi belajar siswa:
1. Penggunaan alat peraga dalam rangka
menarik perhatian dan memperjelas.
2. Pemberian insentif, yang berupa
pujian dari guru, atau timbulnya kepuasan dari dalam diri karena pekerjaannya
berhasil.
3. Penumbuhan keinginan untuk
mengetahui sesuatu
4. Pengorganisasian bahan ajar
5. Penciptaan suasana yang nyaman dalam
belajar
6. Pemberian bantuan agar siswa
memiliki tujuan belajar yang jelas.
7. Pemberian umpan balik.
Cara
lain yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan minat belajar siswa adalah:
1. Belajar melalui model, yaitu melihat
pengalaman-pengalaman yang pernah dicoba oleh orang lain.
2. Belajar kebermaknaan, dengan cara
guru menghubungkan materi dengan pengalaman siswa masa lampau, dan bagaimana
mengatasi untuk masa depan dan membuat contoh-contoh yang berguna bagi siswa.
3. Melibatkan siswa dalam interaksi
yang menimbulkan motivasi seperti: kemukakan tujuan yang hendak dicapai,
tunjukkan hubungan-hubungan agar siswa memahami apa yang diperbincangkan,
menjelaskan pelajaran secara nyata, hindari pembicaraan dari hal-hal yang
abstrak yang tidak terjangkau pikiran siswa.
4. Temu tokoh
5. Wisata alam[4]
B.
Bakat
Bakat atau aptitude merupakan kecakapan potensial
yang bersifat khusus, yaitu khusus dalam sesuatu bidang atau kemampuan
tertentu. Seseorang lebih berbakat dalam bidang bahasa sedang yang lain dalam
matematika, yang lain lagi lebih menunjukkan bakatnya dalam sejarah, dan sebagainya[5].
Banyak para ahli mengemukakan tentang definisi bakat.
Diantaranya adalah menurut W. B Michael bakat merupakan suatu kapasitas atau
potensi yang belum dipengaruhi oleh pengalaman atau belajar, bakat berkenaan
dengan kemungkinan menguasai sesuatu pola tingkah laku dalam aspek kehidupan
tertentu.
Guillford memberikan definisi sedikit berbeda, menurutnya
bakat banyak sekali, sebanyak perbuatan atau aktivitas individu. Ada tiga
komponen dari bakat menurut Guillford, yaitu komponen: Intelektual, perseptual
dan psikomotor. Komponen intelektual terdiri atas beberapa aspek, yaitu
aspek pengenalan, ingatan, dan evaluasi. Komponen perseptual juga
meliputi beberapa aspek, yaitu pemusatan perhatian, ketajaman indra, orientasi
ruang dan waktu, keluasan dan dan kecepatan mempersepsi. Komponen psikomotor
terdiri atas aspek-aspek rangsangan, kekuatan dan kecepatan gerak, ketepatan,
koordinasi gerak dan kelenturan[6].
Bakat dapat diartikan sebagi kemampuan bawaan yang merupakan
potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Kemampuan adalah
daya untuk melakukan suatu tindakan sebagai hasil dari pembawaan dan latihan.
Kemampuan menunjukkan bahwa suatu tindakan dapat dilaksanakan sekarang,
sedangkan bakat memerlukan latihan dan pendidikan agar suatu tindakan dapat
dilakukan di masa yang akan datang[7].
Bakat memungkinkan seseorang mencapai prestasi tertentu
dalam bidang tertentu. Akan tetapi diperlukan latihan, pengetahuan, pengalaman
dan dorongan atau motivasi agar dapat tersebut dapat terwujud. Misalnya
seseorang memiliki bakat menggambar, jika ia tidak pernah diberi kesempatan
untuk mengembangkan, maka bakat tersebut tidak akan tampak. Jika orang tuanya
menyadari bahwa ia mempunyai bakat menggambar dan mengusahakan agar ia dapat
pengalaman yang sebaik-baiknya untuk mengembangkan bakatnya, dan anak itu juga
menunjukkan minat yang besar untuk mengikuti pendidikan menggambar, maka ia
akan dapat mencapai prestasi unggul untuk bidang tersebut[8].
Dalam kehidupan di sekolah sering tampak bahwa seseorang
yang bakat dalam olah raga, umumnya prestasi mata pelajarannya juga baik,
tetapi sebaliknya dapat terjadi prestasi semua mata pelajarannya tidak baik.
Keunggulan dalam salah satu bidang apakah bidang sastra, seni atau matematika,
merupakan hasil interaksi dari bakat yang dibawa sejak lahir dan faktor
lingkungan yang menunjang, termasuk minat dan motivasi.
Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
bakat pada anak terletak pada anak itu sendiri dan lingkungan.
1) anak itu sendiri. Misalnya anak
tersebut tidak atau kurang berminat untuk mengembangakn bakat-bakat yang ia
miliki, atau kurang termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi, atau
mungkin pula mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia mengalami
hambatan dalam pengembangan diri dan berprestasi sesuai dengan bakatnya.
2) Lingkungana anak. Misalnya orang tua
si anak kurang mampu untuk menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia
butuhkan, atau ekonominya cukup tinggi tetapi kurang memberi perhatian terhadap
pendidikan anak[9].
Pada dasarnya setiap orang memiliki bakat-bakat tertentu.
Dua anak bisa sama-sama mempunyai bakat melukis, tetapi yang satu lebih
menonjol daripada yang lain bahkan saudara sekandung dalam satu keluarga bisa
memiliki bakat yang berbeda-beda. Anak yang satu berbakat untuk bekerja dengan
angka-angka, anak yang lain dalam bidang olah raga, serta yang lainnya lagi
berbakat menulis (mengarang).
C. Minat
Minat selama ini hanya dikenal dengan sebuah keinginan yang
dimiliki oleh seseorang, sehingga antara satu dengan yang lain mempunyai perbedaan
dalam keinginannya. Terlepas dari anggapan tersebut, minat siswa belajar
merupakan bagian penting yang perlu dikaji dalam sebuah lembaga/ sekolah,
karena tidak ada sekolah tanpa proses pembelajaran, sehingga minat siswa
belajar adalah kunci tercapainya visi dan misi sekolah.
Minat mempunyai peranan penting bila dikaitkan dalam lembaga
dan kurikulum pembelajarannya, karena minat mempunyai kecenderungan pada siswa
untuk aktif dan respon terhadap sasarannya. Apabila sebuah kurikulum
pembelajaran sekolah sudah tidak diminati, maka siswa akan cenderung
pasif dan tidak memperdulikan segala usaha yang telah dilakukan oleh
sekolah tersebut, sebalikanya jika kurikulum yang dilaksanakan diminati oleh
siswa, maka siswa akan cenderung melakukan kegiatan yang berguna dan berjalan
sesuai apa yang diharapkan oleh sekolah.
Minat secara bahasa diartikan dengan kesukaan, kecenderungan
hati terhadap suatu keinginan. Sedangkan arti minat menurut istilah diartikan
oleh sebagian tokoh sebagai berikut : Menurut Slamito, minat
adalah suatu perasaan cenderung lebih cenderung atau suka kepada sesuatu
hak atau aktifitas tanpa ada yang menyuruh[10].
Menurut Mahfud Shalahuddin, mengemukakan minat secara sederhana, minat
adalah perhatian yang mengandung unsur- unsur perasaan. Andi Mappiare
berpendapat bahwa, minat adalah suatu perangkat mental yang terdiri dari suatu
campuran dari perasaan, harapan, pendirian, prasangka takut atau kecenderungan-
kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu[11].
Dari pemaparan mengenai definisi-definisi minat diatas dapat
disimpulkan bahwa, minat adalah gejala psikis yang muncul dalam diri seseorang
dan direalisasikan dengan perasaan senang dan menimbulkan perhatian yang khusus
terhadap sasaran, sehingga seseorang cenderung berupaya untuk mencapai sasaran
tersebut. Jadi untuk melihat reaksi dari gejala psikis tersebut dapat di
pastikan dari sikap, prilaku, atau motivasi yang dimiliki oleh seseorang dalam
beraktifitas.
Minat mempengaruhi proses dan hasil belajar anak didik,
karena itu guru berkewajiban untuk menumbuhkan minat belajar siswanya. Yang
dapat dilakukan guru adalah sebagai berikut:
1. Memahami kebutuhan anak didik dan
berupaya melayani kebutuhan mereka.
2. Jangan memaksa anak didik untuk
tunduk pada kemauan guru
3. Memberikan informasi pada anak didik
mengenai hubungan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan
bahan pengajaran yang lalu.
4. Menjelaskan kegunaan materi
pelajaran untuk masa yang akan datang.
Minat yang
muncul dalam pikologis siswa merupakan sebuah gejala, sehingga munculnya minat
tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor yang menjadi penyebabnya. Faktor
tersebut diantaraya; (a). Faktor Individu dan (b). Faktor Sosial.
1.
Faktor individu
Merupakan pengaruh yang muncul dalam diri siswa secara
alami, misalnya diakibatkan karena ; kematangan, kecerdasan, latihan, motivasi
dan sifat pribadi. Setiap individu mempunyai tingkat kematangan serta
kecerdasan yang berbeda sehingga minat yang muncul juga tidak sama antara
individu satu dengan yang lain. Misalnya, seseorang yang mempunyai kecerdasan
dibidang mata pelajaran ekonomi maka akan cenderung melakukan aktifitas
dibidang kerja atau koperasi. Sebaliknya sesorang yang mempunyai kecerdasan
dibidang perikanan maka akan cenderung melakukan aktivitas di sawah/tambak.
2.
Faktor sosial
Merupakan pengaruh yang muncul diluar individu, misalnya
diakibatkan karena kondisi keluarga, lingkungan, pendidikan dan motivasi
sosial. Minat yang dipengaruhi oleh faktor sosial misalnya; ketika siswa hidup
dalam masyarakat yang kesehariannya bersentuhan dengan padi (mayoritar petani
padi), maka siswa cenderung ingin tahu dan mengenal kegiatan tersebut karena
merasa menjadi bagian darinya, sebaliknya jika kesehariannya bersentuhan dengan
ikan (mayoritar pekerja tambak), maka siswa cenderung ingin tahu dan mengenal
lebih dalam mengenai perikanan[13].
Jadi, Peran minat sangat besar jika dikaitkan dalam
pelaksanaan pembelajaran, karena dengan adanya minat siswa untuk belajar,
proses pembelajaran akan dapat efektif. Jika murid telah berminat dalam
kegiatan belajar mengajar, maka hampir dapat dipastikan proses belajar mengajar
akan berjalan dengan baik dan hasil belajar juga optimal.
BAB III
PENUTUP
Motivasi merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk
melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai
rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup.
Bakat dapat diartikan sebagi kemampuan bawaan yang merupakan
potensi yang masih perlu dikembangkan atau dilatih. Dan minat adalah gejala
psikis yang muncul dalam diri seseorang dan direalisasikan dengan perasaan
senang dan menimbulkan perhatian yang khusus terhadap sasaran, sehingga
seseorang cenderung berupaya untuk mencapai sasaran tersebut.
Dalam proses pembelajaran antara motivasi, bakat dan minat
berperan dalam mensukseskan tercapainya tujuan pembelajaran bagi siswa. dengan
adanya ketiga hal tersebut, proses pembelajaran akan dapat efektif. dan
dipastikan proses belajar mengajar akan berjalan dengan baik dan hasil belajar
juga optimal.
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
Hartono, Ny. B. Agung dan Sunarto. Perkembangan Peserta
Didik. 2006. Jakarta: Rineka Cipta.
Shaleh, Abdul Rahman. Psikologi. 2008. Jakarta:
Kencana.
Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. 2005. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Walgito, Bimo. Pengantar Psikologi Umum. 2004.
Yogyakarta: ANDI Yogyakarta.
Zalyana. Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab. 2010.
Pekanbaru: Al-Mujtahadah Press.
[3] Nana
Syaodih SukmaDinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005) hlm. 60
[5] Nana
Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2005) hlm. 101
[7] Sunarto
dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta,
2006) hlm. 120
[8] Sunarto
dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: Rineka Cipta,
2006) hlm. 121
Ikuti juga yah
BalasHapus